SUSUNAN ACARA
Waktu: Jum'at malam Sabtu, 6 April 2018
Tempat: Mabes KMNU STIS Nahdliyyin Belakang Masjid Al-Kamiliyah Bonasut
- Aqidatul Awam
- At Takatsur - An Nas
- Tahlil
- Doa Khotmil Qur'an
- Maulid Diba'i
MC Pembukaan
Tilawah Surah Al Israa' tentang Isra' Mi'raj
Lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathan
- Nurullah Riyadi Ketua KMNU STIS ke-3 angkatan 57 (sambutan)
- Pak Sofyan Ayatullah, SST perwakilan dosen
- Ustadz Ahmad Rifa'i Adam, Lc. MA pembina KMNU
- Ustadz Adhli Al-Qarni, SE, S.KMNU mubaligh muda KMNU dari IPB
MC Penutup (10:32 WIB)
Pemotongan tumpeng dan suguhan ringan
Makan malam
Hadirin:
Pembina KMNU STIS
Dosen Politeknik Statistika
Ustadz KMNU
Pengurus KMNU Pusat: Presnas 3 KMNU
Ketua Senat Mahasiswa STIS: Mas Kosasih
STIS Berseri 'berbagi setiap hari': Mas Risal
Teman-Teman KMNU IPB
Teman-Teman IMAN PKN STAN
KMNU STIS: Alumni, Pengurus, Anggota, Tim Hadroh
SAMBUTAN PEMBINA KMNU STIS
Ustadz Ahmad Rifa'i Adam LC MA
Jadi tidak ada lagi mahasiswa statistik yang nggak kenal salam, nggak kenal kalam, nggak kenal senyum -wal 'iyadzubillah-
Syukur Alhamdulillah KMNU STIS menyelenggarakan Harlah yag ke-2. Mudah mudahan semakin dewasa, semakin berkembang, semakin berkah, dan semakin bermanfaat. Paling utama yaitu bermanfaat untuk segenap mahasiswa-mahasiswi di lingkungan STIS. Dukunglah mereka agar nama statistik harum baik di Kebon Nanas ataupun Kebon Sayur (lingkungan masyarakat sekitar kampus) dan kebon-kebon yang lain.
Kalo bukan karena KMNU, nama STIS sampai sekarang masih di-blacklist di tengah-tengah masyarakat. Banyak mahasiswa yang kalo ketemu laa salam wa laa kalam (tidak mengucapkan salam dan tidak mengucapkan kalimat). Kite (masyarakat) dianggapnya musuh, senyum kagak, salam kagak. Tapi kalo untuk ibadat, sholat, diacungkan dua jempol, luar biasa. Mereka kalo sholat nggak seperti anak KMNU. Kalo dia, sholat qobliyahnya aja ‘setengeh jem’. Sholatlah sewajarnya, kalo pengen lama semacam itu sunat setengah jam, di rumah. Mereka datang, ambil shaf terdepan, lalu sholat qobliyah, lamaaa. Sehingga kalo waktunya qomat, ya qomat, akhirnya terpaksa ngebatalin. Emang enak begitu? Dalam ilmu tasawuf istilahnya tasannu’: sesuatu yang dibuat-buat, supaya orang mengira ahli ibadah. Kalo memang ahli ibadah, harusnya mereka punya keyakinan innamal mu’minuuna ikhwatun. Apalah artinya sholat dilamakan, sujud ditekan ampe jidat pade item, tapi pada saudara sesama muslim laa salam wa laa kalam wa laa senyum. Kayaknya senyum bagi mereka mahal. Masyarakat menganggap “kok mahasiswa begitu amat si, esktrim banget si, ampe nggak kenal salam, ampe nggak ada senyum, sekali ketemu lewat pake permisi? kagak. Emang nggak diajarin tata krama sopan santun?”
Wiridan setelah Sholat
Sholat Tarawih
Adab Berpakaian
NU di Jakarta
Jakarta NU banget? emang begitu dari dulu.
(NU bukan cuma di Jawa).
(Jakarta bukan cuma mall dan gedung perkantoran).
Tradisi NU
Tahlil, dzikir, qunut, baca maulid,
mengundang tetangga selamatan rumah baru,
walimatul khitan,
walimatus safar (haji/umroh),
saat pernikahan,
saat meninggal,
dsb.
Jadi ketika kalian berkecimpung di Kebon Nanas (dan Kebon Sayur) ini, bergaul dengan masyarakat di sini, kalian tahu bagaimana tradisi masyarakat di sini. Maka setiap kalian berada di manapun, bawa paham ini. Bukan sekedar menjadi pegawai atau karyawan (di BPS), tapi juga santri. Sekali lagi bahwasanya nama NU ini bukan hanya melekat saat kalian menjadi mahasiswa, tapi setelah lulus dan penempatan, serta di mana kalian berada. Tolong NU dibawa. NU dibawa. Kalian menjadi du’at-du’at nya NU. Di mana kalian berada, sampaikan, sebarkan ajaran dan paham NU, tahlilnya, dzikirnya, qunutnya, (dsb). Karena pada dasarnya Indonesia adalah NU.
MAU'IDZOTUL HASANAH
Ustadz Adhli Al-Qarni, SE, S.KMNU
Jadi perjuangan kita perjuangan persaudaraan, bukan perjuangan permusuhan.
Jaga Aswaja dan Jaga NKRI
Arkanud diin tsalatsa, yaitu rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Rukun Islam menghasilkan Ilmu Fiqih. Dalam Fiqih kita bermadzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali. Rukun iman menghasilkan Ilmu Aqidah. Dalam Aqidah kita menganut paham teologinya Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi, dengan ciri khasnya yaitu sifat 20. Adapun paham teologinya Muhammad bin Abdul Wahab dengan usuluts tsalatsahnya, yaitu Rububiyah, Uluhiyah, Asma’ wa Sifat dipelajari di kampus karena 3 SKS, walaupun di pesantren diharam-haramkan, mereka hanya memakai dalil naqli saja. Rukun Ihsan menghasilkan Ilmu Tasawuf. Pegangan kita dua, Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghazali. Inilah paham Aswaja dalam Sayap Keagamaan yang harus dijaga. Orang-orang di Jakarta ini rata-rata menganut Thoriqoh ‘Alawiyyah. Kalo kitab, kita bacanya Bidayatul Hidayah, Minhajul ‘Abidin, Ihya’ Ulumuddin susunan Imam Ghazali. Kalo kitabnya Habib Umar bin Hafidz yang banyak dibaca para Habaib adalah Al Qabasun Nurul Mubin mukhtasar min Ihya’ Ulumuddin.
Semuanya masih ada ikatan persaudaraan. Ukhuwah Nahdliyyah jika sama-sama NU, tanpa memandang garis lurus, bengkok, kanan, kiri, luar, dalam, tengah. Ukhuwah Islamiyah kalo sama sayap keagamaannya saja. Kita beda agama tapi masih satu bangsa namanya Ukhuwah Wathoniyah. Yang terakhir adalah Ukhuwah Basyariah karena kita sama-sama manusia. Walaupun ada yang nakal kepada kita, tapi kita tidak mudah marah. Ada panduan dalam Al-Qur’an yang dipegang oleh NU yaitu surah Al-Maa'idah [5:28]. Ketika salah satu anak Nabi Adam nakal, yaitu ingin membunuh Habil, Habil tidak membalas dengan keburukan yang sama. Jadi perjuangan kita perjuangan persaudaraan, bukan perjuangan permusuhan.







No comments:
Post a Comment