09 April 2018

Harlah 2 KMNU STIS

SUSUNAN ACARA


Waktu: Jum'at malam Sabtu, 6 April 2018
Tempat: Mabes KMNU STIS Nahdliyyin Belakang Masjid Al-Kamiliyah Bonasut




  1. Aqidatul Awam
  2. At Takatsur - An Nas
  3. Tahlil
  4. Doa Khotmil Qur'an
  5. Maulid Diba'i


MC Pembukaan
Tilawah Surah Al Israa' tentang Isra' Mi'raj
Lagu Indonesia Raya dan Mars Syubbanul Wathan
  • Nurullah Riyadi Ketua KMNU STIS ke-3 angkatan 57 (sambutan)
  • Pak Sofyan Ayatullah, SST perwakilan dosen
  • Ustadz Ahmad Rifa'i Adam, Lc. MA pembina KMNU
  • Ustadz Adhli Al-Qarni, SE, S.KMNU mubaligh muda KMNU dari IPB


MC Penutup (10:32 WIB)
Pemotongan tumpeng dan suguhan ringan
Makan malam

Hadirin:


Pembina KMNU STIS
Dosen Politeknik Statistika
Ustadz KMNU
Pengurus KMNU Pusat: Presnas 3 KMNU
Ketua Senat Mahasiswa STIS: Mas Kosasih
STIS Berseri 'berbagi setiap hari': Mas Risal
Teman-Teman KMNU IPB
Teman-Teman IMAN PKN STAN
KMNU STIS: Alumni, Pengurus, Anggota, Tim Hadroh


SAMBUTAN PEMBINA KMNU STIS


Ustadz Ahmad Rifa'i Adam LC MA

Jadi tidak ada lagi mahasiswa statistik yang nggak kenal salam, nggak kenal kalam, nggak kenal senyum -wal 'iyadzubillah- 

Syukur Alhamdulillah KMNU STIS menyelenggarakan Harlah yag ke-2. Mudah mudahan semakin dewasa, semakin berkembang, semakin berkah, dan semakin bermanfaat. Paling utama yaitu bermanfaat untuk segenap mahasiswa-mahasiswi di lingkungan STIS. Dukunglah mereka agar nama statistik harum baik di Kebon Nanas ataupun Kebon Sayur (lingkungan masyarakat sekitar kampus) dan kebon-kebon yang lain.

Kalo bukan karena KMNU, nama STIS sampai sekarang masih di-blacklist di tengah-tengah masyarakat. Banyak mahasiswa yang kalo ketemu laa salam wa laa kalam (tidak mengucapkan salam dan tidak mengucapkan kalimat). Kite (masyarakat) dianggapnya musuh, senyum kagak, salam kagak. Tapi kalo untuk ibadat, sholat, diacungkan dua jempol, luar biasa. Mereka kalo sholat nggak seperti anak KMNU. Kalo dia, sholat qobliyahnya aja ‘setengeh jem’. Sholatlah sewajarnya, kalo pengen lama semacam itu sunat setengah jam, di rumah. Mereka datang, ambil shaf terdepan, lalu sholat qobliyah, lamaaa. Sehingga kalo waktunya qomat, ya qomat, akhirnya terpaksa ngebatalin. Emang enak begitu? Dalam ilmu tasawuf istilahnya tasannu’: sesuatu yang dibuat-buat, supaya orang mengira ahli ibadah. Kalo memang ahli ibadah, harusnya mereka punya keyakinan innamal mu’minuuna ikhwatun. Apalah artinya sholat dilamakan, sujud ditekan ampe jidat pade item, tapi pada saudara sesama muslim laa salam wa laa kalam wa laa senyum. Kayaknya senyum bagi mereka mahal. Masyarakat menganggap “kok mahasiswa begitu amat si, esktrim banget si, ampe nggak kenal salam, ampe nggak ada senyum, sekali ketemu lewat pake permisi? kagak. Emang nggak diajarin tata krama sopan santun?”

Wiridan setelah Sholat


Entah siapa yang ngajarin mereka semacam itu, selesai sholat, assalau’alaikum assalamu’alaikum, allohumma lantas jalan. Nggak mau wirid dulu, dzikir dulu (dzikir jahr bersama-sama bukan bid’ah).

Sholat Tarawih


Apalagi di Masjid depan kita ini (Al-Kamiliyah) ketika tarawih (belum selesai, masih) 8 rokaat mereka itu pada bubar. Ketika mereka bubar, mereka pulang, akhirnya masyarakat jadi ikut. Ketika masyarakat ikut, tinggal imam ame bilal. wkwkwk. Ketika saya giliran tausyiah di sini setelah sholat isya sebelum tarawih, sampai-sampai saya sampaikan: “Kalo ada diantara jamaah yg punya niat selepas 8 roka’at pulang, mendingan dari sekarang pulang, nggak usah teraweh di masjid ini”. Kenapa? (karena) jadi racun, sementara masyarakat pengen tuntas 23 roka’at, eh gara-gara yg lain pada pulang akhirnya apa? ikut-ikutan. Tapi kalo KMNU nggak seperti itu, 23 yang dicari, dan tidak akan bubar atau keluar dari masjid sebelum selesai doa.

Adab Berpakaian


KMNU sampe sekarang belum ada yg tinggal di dekat mushola saya, yg ada dari “selain KMNU”. Kalo untuk sholat mereka luar biasa, raajin. Tapi sayang yang pertama mereka nggak kenal orang, yang kedua mereka nggak kenal pakaian. Pake kaos, jadi (mungkin kaos BN, atau kaos lain), pake training, jadi (mungkin celana olahraga STIS). Kok sholat begitu? Dan kalo sholat nggak mao shof yang kedua ketiga, oo pertama. Makanya kalo saya jadi imam, saya lihat dulu, kalo mereka nggak sopan pakaiannya, saya suruh mundur (dari shaf pertama). Yang rapi-rapi maju ke depan. Tapi kalo KMNU nggak ada yang begitu, rapi semua, karena ada jiwa santri. Meskipun waktu di kampungnya mereka bukan santri (tapi ada kok beberapa yg asli santri dari pondok). Makanya kalo dilihat pakaian mereka malam ini (pake kain (sarung), baju koko), inilah mahasiswa yang santri, santri yang mahasiswa. Karena NU sangat lekat dengan yang namanya santri. Mungkin nanti tiap hari Jum’at pake kain (sarungan) ke kampus. wkwkwk. Santri! kan begitu.

NU di Jakarta


Pendiri NU di tanah betawi: Alm Mu'allim Marzuqi bin Mirshod.
Jakarta NU banget? emang begitu dari dulu.
(NU bukan cuma di Jawa).
(Jakarta bukan cuma mall dan gedung perkantoran).

Tradisi NU
Tahlil, dzikir, qunut, baca maulid,
mengundang tetangga selamatan rumah baru,
walimatul khitan,
walimatus safar (haji/umroh),
saat pernikahan,
saat meninggal,
dsb.

Jadi ketika kalian berkecimpung di Kebon Nanas (dan Kebon Sayur) ini, bergaul dengan masyarakat di sini, kalian tahu bagaimana tradisi masyarakat di sini. Maka setiap kalian berada di manapun, bawa paham ini. Bukan sekedar menjadi pegawai atau karyawan (di BPS), tapi juga santri. Sekali lagi bahwasanya nama NU ini bukan hanya melekat saat kalian menjadi mahasiswa, tapi setelah lulus dan penempatan, serta di mana kalian berada.  Tolong NU dibawa. NU dibawa. Kalian menjadi du’at-du’at nya NU. Di mana kalian berada, sampaikan, sebarkan ajaran dan paham NU, tahlilnya, dzikirnya, qunutnya, (dsb). Karena pada dasarnya Indonesia adalah NU.


MAU'IDZOTUL HASANAH


Ustadz Adhli Al-Qarni, SE, S.KMNU

Jadi perjuangan kita perjuangan persaudaraan, bukan perjuangan permusuhan.

Jaga Aswaja dan Jaga NKRI


Tugas kita ada dua, yaitu tugas NU dan tugas mahasiswa. Tugas yang pertama, sebagaimana dalam Qonun Asasi Nahdlatul Ulama, Hadratus Syaikh menyitir firman Allah tentang sayap [26:215]. Sehingga kita harus menjaga sayap, yaitu dua sayap agar dapat terbang: Sayap Kebangsaan dan Sayap Keagamaan. Dalam sayap kebangsaan kita punya 4: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, dan NKRI (bisa disingkat jadi 'PBNU').

Arkanud diin tsalatsa, yaitu rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Rukun Islam menghasilkan Ilmu Fiqih. Dalam Fiqih kita bermadzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali. Rukun iman menghasilkan Ilmu Aqidah. Dalam Aqidah kita menganut paham teologinya Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi, dengan ciri khasnya yaitu sifat 20. Adapun paham teologinya Muhammad bin Abdul Wahab dengan usuluts tsalatsahnya, yaitu Rububiyah, Uluhiyah, Asma’ wa Sifat dipelajari di kampus karena 3 SKS, walaupun di pesantren diharam-haramkan, mereka hanya memakai dalil naqli saja. Rukun Ihsan menghasilkan Ilmu Tasawuf. Pegangan kita dua, Imam Junaid Al-Baghdadi dan Imam Ghazali. Inilah paham Aswaja dalam Sayap Keagamaan yang harus dijaga. Orang-orang di Jakarta ini rata-rata menganut Thoriqoh ‘Alawiyyah. Kalo kitab, kita bacanya Bidayatul Hidayah, Minhajul ‘Abidin, Ihya’ Ulumuddin susunan Imam Ghazali. Kalo kitabnya Habib Umar bin Hafidz yang banyak dibaca para Habaib adalah Al Qabasun Nurul Mubin mukhtasar min Ihya’ Ulumuddin.

Semuanya masih ada ikatan persaudaraan. Ukhuwah Nahdliyyah jika sama-sama NU, tanpa memandang garis lurus, bengkok, kanan, kiri, luar, dalam, tengah. Ukhuwah Islamiyah kalo sama sayap keagamaannya saja. Kita beda agama tapi masih satu bangsa namanya Ukhuwah Wathoniyah. Yang terakhir adalah Ukhuwah Basyariah karena kita sama-sama manusia. Walaupun ada yang nakal kepada kita, tapi kita tidak mudah marah. Ada panduan dalam Al-Qur’an yang dipegang oleh NU yaitu surah Al-Maa'idah [5:28]. Ketika salah satu anak Nabi Adam nakal, yaitu ingin membunuh Habil, Habil tidak membalas dengan keburukan yang sama. Jadi perjuangan kita perjuangan persaudaraan, bukan perjuangan permusuhan.

Ilmu Mahasiswa dan Ilmu Santri


Yang kedua, kapasitas kita sebagai mahasiswa adalah mempelajari ilmu-ilmu dunia. Statistika, Walpole, auto-regressive distributed lag, VECM, penelitian skripsi, Komputasi, Makroekonomi, Mikroekonomi, Maxwell, Saham Syari’ah JI, ISI 313 Saham. Tapi jangan lupakan ilmu santri. Hafal Qur’an, Shubuh Jum’at baca As-Sajadah, sujud tilawah dalam sholat, roka’at kedua surah Al-Insan. Masa kehamilan dibacakan Yusuf 40 kali. Menghafal Alfiyah. Hafal Jurumiyah: (artinya) penyusun kalimat itu ada 3: Isim, Fi’il, dan Huruf yg bermakna. Paham wazan kata kerja: fa’ala waf’ulu fa’lan maf’alan wa huwa faa’ilun wa dzaaka maf’uulun uf’ul, laa taf’ul maf’alun maf’alun mif’alun. Bulughul Marom: (artinya) tentang air laut, itu suci airnya dan halal bangkainya. Jangan lama-lama mendongak ke langit: datang ke kelas tepat waktu, duduk di depan dosen. Perbaiki akademik anda, shofhah-shofhah baca halaman demi halaman, muroja’ah bolak-balik teorinya. Tapi jangan lihat bumi terus [20:131]: mengaji! Jangan sampe tidak ngaji kitab seminggu sekali, itu keterlaluan. Bawa catatan dan pena ke mana-mana. Siapa anak KMNU? Jangan kira kita tidak tahu agama. Kalo orang lain mengatakan saya da’i sebelum menjadi apapun (nahnu du’at qobla kulli syai in), kita bilang ‘santri sebelum apapun’. Habis ngaji Jurumiyah, lanjut ngaji Walpole. Saya waktu belajar Walpole itu nggak tahu di mana makamnya Walpole, kalau saya tahu saya ziaroh. wkwkwk. Salaamullohi yaa saadah.

Periwayatan Musalsal


Periwayatan Musalsal. Musalsal bil Awaliyah, start permulaan tonggak kita belajar: “cinta-kasihilah yang di bumi niscaya yang di langit akan mencinta-kasihi kalian”. Jadi harus ta’alluq hati (sambung hati), sama kawan cinta, sama pensil & buku cinta, tidak dirusak. Jangan ghibahi dosen. Hadits ini musalsal tershohih di dunia setelah musalsal surah As-Shoff (tentang orang yg berperang di jalan Allah dalam satu barisan). Kemudian yang kedua, musalsal bimashil wajhah, yang sering dibid’ahi orang. Rasulullah mengusap wajahnya setelah sholat. Maka semua orang yang meriwayatkan hadits ini menyapu bulu wajahnya kemudian membaca doa. “Bismillaahil ladzi laa ilaaha illahuwar rohmaanur rohiim, alloohumma adz-hibil ham wal ghommu wal hazan (hilangkanlah kegelisahan dan kesuraman dan kesedihan).” Kemudian Ustadz Adhli Al-Qarni mengijazahkan dua hadits ini kepada jama’ah yang hadir pada peringatan dan tasyakuran Hari Lahir KMNU STIS. Ajaztukum jaami’an kulluhu. (Jamaah menjawab) Qobilnaa Ijazah.